Kamis, 30 Oktober 2014

Revolusi Mental 10: Hilangnya Kemanusiaan

Krisis kemanusiaan terjadi ketika manusia secara kolektif telah kehilangan sebagian atau seluruh nilai-nilai kemanusiaannya sehingga tidak mengetahui lagi batas-batas antara yang benar dan yang salah, antara yang baik dan yang buruk, atau antara yang berharga dan tidak berharga. Tapi masalahnya, saat ini berlaku pandangan umum bahwa nilai-nilai kemanusiaan bersifat subyektif dan relatif, apa yang menurut sekelompok orang merupakan nilai-nilai kemanusiaan yang penting bisa jadi tidak berarti apa-apa bagi kelompok lain. Agama yang berbeda-beda di dunia ini pada akhirnya juga mempengaruhi relatifnya nilai kemanusiaan.

Karena batasan-batasan yang subyektif ini maka krisis kemanusiaan memang sulit diukur secara kuantitatif. Ironisnya, pandangan yang mengatakan nilai kemanusiaan bersifat relatif dan subyektif sebenarnya justru menunjukkan adanya krisis kemanusiaan karena itu sama artinya dengan ini: manusia sudah tidak tahu lagi nilai-nilai kemanusiaan yang benar. Manusia seharusnya memiliki satu nilai kemanusiaan yang universal dan absolut. Hanya saja saat ini harus dengan rendah hati diakui bahwa manusia belum mencapai kesadaran itu. Perlu proses yang tidak sederhana dan panjang untuk sampai pada kesadaran itu. Tapi setidaknya ada suatu nilai bersama yang bisa diterima sebagai nilai kemanusiaan universal untuk saat ini, yaitu bahwa hidup manusia berharga karena manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling berharga. Ini standar minimal yang bisa diterima secara umum. Oleh karenanya setiap tindakan yang merugikan, membahayakan atau merendahkan hidup manusia harus disepakati semua agama sebagai tindakan yang tidak manusiawi.

Krisis kemanusiaan menjadi sangat berbahaya karena manusia bisa melakukan tindakan-tindakan destruktif yang merugikan dan membahayakan banyak orang dengan penuh kesadaran dan tanpa rasa bersalah. Manusia sudah tidak menghargai dan tidak lagi peduli pada hidup manusia lainnya. Bom bunuh diri, pembantaian masal, genosida, pembantaian rakyat sipil dalam peperangan, meledakkan bom atom, dan pembakaran hutan adalah contohnya. Dibandingkan semua krisis lainnya, krisis kemanusiaan adalah krisis yang paling mengancam peradaban manusia. Tidak berlebihan jika saya mengatakan krisis kemanusiaan adalah inti sesungguhnya dari krisis peradaban.

Sejak revolusi industri, demi pertumbuhan ekonomi dan bergeraknya mesin-mesin industri manusia memang terus dijejali dengan semangat materialisme dan konsumerisme. Semangat ini tentu saja tidak sejalan dengan nilai-nilai spiritual yang berasal dari agama. Manusia tidak bisa memiliki dua tuan, oleh karenanya demi pertumbuhan ekonomi manusia secara sistematis juga dijauhkan dari Tuhan dan nilai-nilai agama.

Cara-cara sistematis itu antara lain dengan menempatkan sains dan teknologi lebih penting dari agama. Lalu menyibukkan manusia dengan berbagai kesenangan dan keinginan duniawi seperti mengembangkan industri hiburan secara berlebihan. Misalnya saja, berkembang pesatnya hiburan audio dan visual di berbagai media (termasuk internet) yang terus mengeksploitasi naluri-naluri dasar manusia ataupun berbagai kegiatan pertandingan olah raga yang terus membuat orang rela menghabiskan waktu berharga yang seharusnya disediakan bagi Tuhan. Tidak perlu heran jika industri pornografi menjadi industri yang terbesar di internet dan banyak orang di Eropa dan Amerika Latin yang dengan bangga menjadikan sepakbola menjadi agama baru mereka. Sementara itu dunia akademis juga dibuat semakin sekuler dengan berbagai alasan ilmiah yang semu.

Jika kita cukup kritis, masih ada banyak contoh-contoh upaya sistematis yang dilakukan untuk menjauhkan manusia dari Tuhan. Tapi cukuplah kita tahu bahwa upaya sistematis itu memang ada demi satu tujuan utama: mendukung kepentingan pertumbuhan ekonomi. Ini sebuah kesalahan fatal yang harus dibayar sangat mahal. Hanya dari Tuhan saja manusia bisa menemukan nilai manusiawinya yang sejati, ketika manusia dijauhkan dari Tuhan maka kemanusiaannyapun ikut hilang.

Bisakah anda membayangkan apa yang terjadi jika anda berada di tengah hutan belantara dan tiba-tiba kehilangan GPS, peta dan kompas? Itulah yang terjadi ketika manusia tidak lagi menempatkan Tuhan sebagai pedoman kebenaran dan sumber nilai-nilai kemanusiaan. Manusia kehilangan arah dan akan berjalan menurut naluri serta logikanya yang serba terbatas, yang hanya akan membuatnya semakin tersesat ke dalam hutan.

Sayangnya proses hilangnya nilai kemanusiaan ini seperti kanker ganas yang menyerang diam-diam dari dalam tubuh. Kehadirannya baru diketahui setelah parah dan merusak banyak organ tubuh. Demikian juga kemanusiaan yang hilang ini baru mulai disadari sebagai masalah ketika membuahkan banyak krisis yang mengancam peradaban manusia.



Kultur Kematian Dan Peradaban Tanpa Harapan

Ketika Tuhan sudah tidak lagi menjadi bagian terpenting kehidupan maka manusia kehilangan tiga hal ini: jalan, kebenaran, dan hidup. Tiga hal penting itulah yang akhirnya membuat manusia kehilangan kemanusiaannya dan menjadi penyebab berbagai krisis yang menghancurkan peradaban.
Dalam konteks membangun peradaban masa depan, kehilangan jalan berarti tidak tahu alternatif apa yang harus dipilih untuk membangun peradaban. Manusia tersesat dan apapun yang dilakukannya hanya akan membuahkan krisis yang makin dalam. Kehilangan kebenaran berarti juga kehilangan nilai-nilai kehidupan dan visi peradaban: manusia tidak tahu lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah, sehingga manusia tidak tahu peradaban seperti apa yang harus dibangun di masa depan. Visi peradaban yang dimiliki manusia hanyalah visi-visi pragmatis yang berbeda-beda dari berbagai kelompok yang sudah kehilangan kemanusiaannya. Kalaupun manusia berhasil menyepakati sebuah visi peradaban global bersama, tidak ada jaminan visi peradaban duniawi yang dibangun tanpa menyertakan Tuhan adalah peradaban yang ideal dan berlangsung lama. Kesombongan dan keangkuhan manusia yang merasa mampu membangun masa depan tanpa Tuhan menjadi jaminan bahwa visi peradaban semacam itu akan gagal. Sejarah sudah berkali-kali membuktikan ini dan manusia seharusnya belajar untuk tidak mengulangi lagi. Sementara itu kehilangan hidup berarti juga kehilangan sumber kekuatan surgawi yang membuat manusia dapat menjalani hidup secara manusiawi dan mampu menempuh jalan menuju peradaban masa depan yang ideal.

Kalau manusia sudah kehilangan jalan, kebenaran, dan hidup, lalu peradaban seperti apa yang akan dibangun? Manusia yang sudah kehilangan kemanusiaannya hanya akan membangun kultur kematian dan merancang kehancurannya sendiri. Inilah yang terjadi pada peradaban manusia saat ini.
Dengan kultur kematian, sangat ironis, manusia mulai melihat kehidupan sebagai bencana. Contohnya, ketika berhadapan dengan berbagai krisis maka yang dilihat sebagai masalah serius adalah pertumbuhan populasi (kehidupan), bukan pertumbuhan ekonomi. Dan sebaliknya, manusia mulai melihat kematian sebagai solusi. Contohnya, Cina dengan kebijakan satu keluarga satu anak, aborsi (kematian) jadi pilihan yang dipaksakan kepada pasangan yang memiliki anak lebih dari satu. Bahkan sekarang di banyak negara aborsi dilegalkan dengan syarat-syarat tertentu. Di Indonesia yang mengaku negara ber-Tuhan misalnya, pada tahun 2014 telah diterbitkan sebuah peraturan presiden yang melegalkan aborsi bagi kehamilan di bawah usia 40 hari dengan alasan-alasan tertentu seperti korban perkosaan atau adanya kemungkinan cacat berdasarkan indikasi medis.

Ini semua merupakan tanda-tanda jelas kuatnya kultur kematian di dalam peradaban manusia sekarang ini, sebuah kultur kehidupan tanpa Tuhan yang sudah kehilangan harapan. Jika kehidupan sudah dipandang sebagai bencana dan sebaliknya kematian dianggap sebagai solusi maka masih mungkinkah bisa dihasilkan sesuatu yang baik dari kultur kematian semacam ini? Pohon yang buruk hanya akan menghasilkan buah yang buruk. Demikian juga kultur kematian hanya akan menghasilkan kehancuran peradaban.

Tapi harapan untuk membangun peradaban masa depan manusia masih terbuka kalau saja manusia mau menghentikan kultur kematian ini dan dengan rendah hati mau kembali berpaling pada Tuhan untuk memulihkan kemanusiaannya. Tidak ada jalan lain.



Revolusi Mental 9: Pertumbuhan Ekonomi, Akar Segala Kejahatan

Sebenarnya disinilah letak akar permasalahan semua krisis yang mendera manusia sekarang ini: sejak revolusi industri semangat pertumbuhan ekonomi membuat manusia mulai kehilangan kemanusiaannya. Semangat materialisme ternyata tidak sejalan dengan hidup yang berpusat pada Tuhan padahal semangat materialisme ini mutlak dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi. Materialisme adalah jiwa dari pertumbuhan ekonomi. Sementara itu manusia tidak mungkin mengabdi pada dua tuan, yang satu harus disingkirkan demi yang lain. Maka secara sistematis peran Tuhan harus disingkirkan dari kehidupan manusia demi pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian manusia mulai diarahkan untuk mengabdi pada dewa yang baru sebagai pengganti Tuhan Sang Pencipta: uang.

Bagi para pendukung pertumbuhan ekonomi, sains dan teknologi bisa dijadikan ‘jalan hidup’ alternatif untuk menggantikan agama. Sains dan teknologi yang maju pesat akibat dipicu oleh semangat pertumbuhan ekonomi membuat manusia lebih percaya kepada sains dan teknologi dari pada kepada Tuhan. Manusia mulai meminggirkan peran agama dari ruang publik. Secara sistematis ruang gerak agama makin dibatasi dan perannya terus dikecilkan.

Akibatnya hidup manusia dijauhkan dari nilai-nilai spiritual dan semakin dipenuhi oleh semangat materialisme serta konsumerisme. Sport dan hiburan yang tidak sehat juga dipromosikan secara berlebihan untuk membuat manusia melupakan harta rohani yang dibutuhkannya. Ini mengubah drastis cara pandang manusia terhadap alam, terhadap sesama, dan terhadap Tuhan. Atau dengan kata lain, hilangnya nilai-nilai spiritual membuat manusia juga kehilangan kemanusiaannya yang utuh. Sebuah kesalahan fatal yang baru dirasakan akibatnya setelah terakumulasi selama dua abad lebih. Tidak perlu heran jika sekarang alam tidak lagi bersahabat dengan manusia.



Dengan demikian sumber semua krisis yang terjadi saat ini adalah sikap manusia sendiri yang menempatkan pencapaian material sebagai nilai hidup yang lebih penting dari nilai-nilai yang lain. Kondisi ini berlangsung cukup lama dan kolektif sehingga mewarnai norma peradaban.
Jadi sangat benarlah perkataan ini: cinta akan uang adalah akar dari semua kejahatan. Manusia harus menyadari bahwa cinta akan uang yang termanifestasi dalam fanatisme terhadap pertumbuhan ekonomi pada akhirnya hanya membuat manusia kehilangan kemanusiaannya dan menjadi sumber dari berbagai krisis lain yang mendera peradaban manusia. Hilangnya kemanusiaan ini juga yang kemudian menjadi penyebab langsung dari krisis kemanusiaan yang begitu menonjol akhir-akhir ini.

Banyaknya krisis yang terjadi, termasuk krisis kemanusiaan, seharusnya memberi pelajaran berharga bagi manusia bahwa pertumbuhan ekonomi sebenarnya sudah gagal. Obsesi manusia terhadap pertumbuhan ekonomi telah menjadi penyebab utama timbulnya berbagai krisis. Tragedi 9/11 sesungguhnya adalah sebuah pertanda bagi manusia bahwa pertumbuhan ekonomi (disimbolkan oleh gedung WTC) akan dihancurkan oleh masalah yang dibuatnya sendiri (disimbolkan oleh tindakan teroris yang tidak manusiawi). Manusia harus mengubur ide-ide pertumbuhan ekonomi selamanya jika ingin terbebas dari krisis peradaban.

Ini bukan soal ideologi sebab baik kapitalisme maupun komunisme tetap berdasarkan pada semangat materialisme yang mengedepankan pertumbuhan ekonomi. Bedanya, kapitalisme mengandalkan pasar bebas sementara komunisme mengandalkan sistem distribusi kesejahteraan yang dikendalikan pemerintahan otoriter. Dua-duanya juga sudah terbukti gagal total. Runtuhnya Uni Soviet adalah bukti kegagalan komunisme, sementara krisis finansial yang sudah terjadi dan masih akan terjadi adalah bukti kegagalan kapitalisme.

Banyak orang berharap bahwa sistem hibrida yang memadukan ide-ide komunis dan kapitalis seperti yang dipraktekkan Cina bisa menjadi alternatif. Pertumbuhan ekonomi Cina yang fantastis di tengah kelesuan ekonomi negara-negara industri lain dianggap sebagai buktinya. Tapi selama pertumbuhan ekonomi tetap menjadi semangatnya maka sistem ideologi apapun tidak akan berhasil.

Selasa, 28 Oktober 2014

Revolusi Mental 8: Revolusi Industri, Pemicu Pertumbuhan Eksponensial

Dengan melihat sejarah kita bisa mengetahui bahwa faktor populasi dan pertumbuhan ekonomi mulai mendapat peran dominan sejak revolusi industri. Faktor pertumbuhan ekonomi dan populasi mendapatkan momentum untuk bertumbuh secara eksponensial sejak munculnya semangat revolusi industri. Memahami mengapa fenomena ini bisa terjadi akan menjadi faktor kunci yang membantu kita mengerti akar masalah.

Pada tahun 1765 James Watt berhasil memperbaiki cara kerja mesin uap ciptaan Samuel Newcomen sehingga membuat mesin tersebut lebih efisien dan dapat diaplikasikan untuk banyak kegunaan. Ini menandai dimulainya penggunaan mesin dan energi fosil dalam bidang industri yang akan mengubah wajah dunia. Penggunaan mesin dan energi fosil membuat produktivitas manusia meningkat sangat pesat sehingga ikut mengubah cara hidup manusia secara radikal. Ini kemudian dikenal dengan sebutan revolusi industri.

Pemilik modal mulai memanfaatkan industri untuk memproduksi barang-barang demi meraih keuntungan. Mereka memproduksi barang jauh melebihi yang sebenarnya dibutuhkan manusia. Barang-barang ini harus diserap oleh pasar supaya industri terus berjalan, maka semangat materialisme dan konsumerisme juga ikut dikembangkan untuk menunjang dunia industri. Dengan cara ini manusia mudah dibujuk untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Etika yang digunakan dalam revolusi industri sangat pragmatis: demi keuntungan (pertambahan kapital), tidak menjadi penting barang apa yang diproduksi selama itu semua bisa diserap oleh pasar, bagaimanapun caranya. Akibatnya pertumbuhan ekonomi, bukan kebutuhan manusia, menjadi jiwa dan kekuatan utama yang menggerakkan revolusi industri.

Revolusi industri juga mendorong sains dan teknologi untuk menghasilkan penemuan-penemuan baru yang membuat dunia industri semakin memiliki kekuatan dalam menghasilkan banyak barang dan hidup manusia menjadi tampak lebih mudah. Dalam dunia transportasi, mobil membuat manusia bergerak lebih cepat. Kemajuan teknologi telekomunikasi membuat manusia mampu berhubungan dengan siapapun tanpa hambatan jarak. Dalam dunia kesehatan, banyak penyakit berbahaya yang bisa diatasi dan harapan hidup manusia makin meningkat sehingga memberikan dampak yang signifikan pada pertumbuhan populasi. Karena sains dan teknologi mampu memberikan hasil yang nyata maka manusia mulai menempatkan sains dan teknologi lebih tinggi dari agama.

Pada awal perkembangannya, dampak industri terhadap lingkungan tidak begitu dirasakan dan sumber daya alam juga masih sangat berlimpah. Dengan demikian manusia belum melihat dampak buruk dari pertumbuhan industri. Sangat bisa dipahami jika dalam kondisi seperti ini industri dan semangat pertumbuhan ekonomi dianggap sebagai sebuah anugerah bagi manusia. Akibatnya nilai-nilai yang menunjang pertumbuhan ekonomi seperti materialisme dan konsumerisme, serta pendewaan terhadap sains dan teknologi terus berkembang dan menjadi bagian dari pandangan dunia modern.


Semangat mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa batas membuat industri terus memproduksi barang-barang. Akibatnya manusia terus mengeksplorasi alam secara berlebihan dan merusak ekosistem. Sementara itu harga energi fosil yang murah mendorong industri untuk menciptakan dan memproduksi alat transportasi berbahan bakar energi fosil dan perlengkapan rumah tangga yang menggunakan listrik. Ini semua berkontribusi besar pada peningkatan konsumsi energi dan polusi.

Media yang dibiayai industri (paling tidak dari iklan) juga terus mempromosikan semangat konsumerisme. Demikian juga bank-bank yang membiayai industri ikut berkepentingan untuk terus memberikan kredit konsumsi. Ini semua agar barang-barang hasil industri terserap oleh pasar dan semua pelaku ekonomi dapat bagian keuntungan. Sekarang, ini semua menimbulkan masalah lingkungan yang berdampak luas dan merusak, bahkan ikut berperan penting yang memunculkan banyak krisis lainnya. Tapi manusia dengan semangat materialisme yang dominan sudah terlanjur bergantung pada barang-barang hasil industri dan seolah tidak bisa hidup tanpa itu. Akibatnya alternatif  lain dari pertumbuhan ekonomi sepertinya mustahil.

Revolusi Mental 7: Pertumbuhan Eksponensial Sebagai Masalah Utama Penyebab Krisis

Jika merenungkan semua krisis yang terjadi seharusnya kita bertanya, bagaimana mungkin krisis sebanyak ini hadir dalam satu masa secara bersamaan? Secara intuitif besar kemungkinannya krisis-krisis ini bukanlah krisis-krisis yang terpisah dan berdiri sendiri tapi merupakan bagian dari satu krisis besar dengan satu akar permasalahan yang sama.

Untuk itu kita perlu melihat keterkaitan antara krisis-krisis yang terjadi, faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan mencoba melihat hubungan sebab-akibatnya. Dari hubungan sebab akibat ini kita bisa melihat akar permasalahan dari seluruh krisis yang terjadi. Dengan mengetahui akar permasalahan yang ada kita akan bisa melihat semua krisis dalam perspektif yang baru dan menemukan solusi yang terbaik untuk mengatasinya.

Untuk menyederhanakan masalah saya akan menggunakan bantuan model dinamika sistem yang digunakan dalam buku ‘Limits To Growth’ dimana faktor-faktor yang diperhitungkan adalah: populasi manusia, hasil industri/ekonomi,  produksi pangan, sumber daya alam, dan polusi.

Dari model dinamika sistem ini kita akan melihat korelasi antara berbagai krisis yang terjadi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Kita akan menganalisis empat krisis dominan yang dipengaruhi oleh batas-batas pertumbuhan planet bumi:

Krisis energi
Pada tahun 1980 harga minyak bumi berada di angka $20 per barrel, tapi sekarang harganya sudah mencapai $100 atau naik 400%. Ini sudah cukup menggambarkan adanya krisis akibat makin tingginya permintaan dan makin terbatasnya penawaran. Keterbatasan penawaran disebabkan oleh makin menurunnya produksi ladang minyak di berbagai negara dan penemuan sumber-sumber minyak baru sangat terbatas. Sementara itu naiknya permintaan disebabkan dua hal: meningkatnya populasi manusia dan meningkatnya aktivitas ekonomi / industri.

Krisis pangan
Krisis pangan juga ditandai oleh terbatasnya ketersediaan pangan dan tingginya permintaan. Faktor yang mempengaruhi tingginya permintaan tentu saja jumlah populasi manusia yang terus meningkat. Sementara itu keterbatasan persediaan pangan disebabkan banyak hal. Antara lain karena produktivitas yang makin menurun, baik karena menurunnya kualitas tanah ataupun karena kerusakan lingkungan.

Produksi pangan juga banyak terganggu oleh kondisi cuaca ekstrim akibat pemanasan global / perubahan iklim. Australia sebagai produsen komoditi pangan dunia mengalami penurunan produksi hingga 50% akibat gangguan cuaca. Banyak negara produsen yang mengurangi atau bahkan menghentikan ekspor pangan demi memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kondisi ini makin diperparah lagi dengan banyaknya lahan pertanian yang digunakan untuk produksi bio-fuel guna memenuhi kebutuhan energi.

Krisis Lingkungan
Perubahan iklim atau pemanasan global menandai krisis lingkungan. Ada banyak yang mempengaruhi perubahan iklim, yang paling signifikan adalah polusi dan kerusakan alam akibat meningkatnya aktivitas industri dan tingkat konsumsi sehingga merusak keseimbangan ekosistem.

Krisis ekonomi
Suka atau tidak suka akhirnya harus diakui bahwa sistem ekonomi dunia yang mengasumsikan pertumbuhan ekonomi tanpa batas di planet bumi yang terbatas sudah tidak relevan lagi. Aktivitas ekonomi tidak bisa dilepaskan dari eksploitasi sumber daya alam dan kerusakan lingkungan. Jadi aktivitas ekonomi seharusnya juga memiliki batas-batas untuk bisa membuatnya berkelanjutan. Aktivitas ekonomi tidak bisa dipacu terus-menerus tanpa menimbulkan efek samping yang merusak. Krisis yang berkali-kali terjadi dan masih akan terjadi dalam skala yang lebih besar adalah sebuah indikasi yang tidak bisa dibantah bahwa sistem ekonomi seperti ini memiliki kesalahan yang mendasar dan tidak bisa dilanjutkan. Ini fakta tidak menyenangkan yang harus diterima semua orang.


Dari keempat krisis di atas meningkatnya populasi manusia punya andil dalam tiga krisis ini: krisis energi, krisis pangan, dan krisis lingkungan. Pengaruh populasi pada krisis ekonomi adalah tidak langsung, melalui berbagai krisis, terutama krisis energi. Sementara pertumbuhan ekonomi punya pengaruh langsung pada tiga krisis: krisis ekonomi, krisis  lingkungan, dan krisis energi. Pada krisis pangan pengaruhnya tidak langsung, yaitu melalui perubahan iklim. Jadi bisa dikatakan dua faktor ini: pertumbuhan populasi dan pertumbuhan ekonomi, adalah dua faktor paling penting yang mempengaruhi berbagai krisis yang terjadi.

Ada satu krisis yang penting dan merupakan bagian tidak terpisahkan dari krisis peradaban, yaitu krisis kemanusiaan. Krisis ini tidak saya sebut di atas karena memang tidak berhubungan langsung dengan batas-batas pertumbuhan. Tapi nanti akan jelas bahwa krisis penting ini juga berkaitan dengan akar ke-empat krisis di atas. Krisis kemanusiaan ini meski menyangkut soal manusia ternyata tidak banyak hubungannya dengan masalah pertumbuhan populasi, tapi sangat berhubungan erat dengan pertumbuhan ekonomi.

Senin, 27 Oktober 2014

Revolusi Mental 6: Permasalahan Solusi Parsial

Abraham Maslow pernah mengatakan, “Jika anda hanya punya sebuah palu, anda akan cenderung melihat semua masalah sebagai paku”. Itu kecenderungan manusia yang sekarang juga terlihat ketika menghadapi berbagai krisis: melihat masalah dari sudut pandang yang sempit dan terspesialisasi.
Ketika terjadi krisis energi, upaya penyelesaian hanya terfokus untuk mengatasi masalah kelangkaan energi, misalnya dengan mencari ladang minyak baru, melakukan konversi penggunaan energi, mengembangkan energi-energi terbarukan, dan melakukan upaya efisiensi. Juga ketika terjadi krisis lingkungan, orang berupaya mulai melakukan konservasi alam, mengurangi polusi, melakukan pengolahan limbah, mengendalikan emisi gas buang, menggunakan bahan-bahan daur ulang untuk keperluan sehari-hari, melakukan gerakan penghijauan, menyelamatkan satwa langka, dan banyak lagi. Tindakan itu semua tentu saja bagus dan berguna, tapi tidak cukup.

Akibatnya, sebagian besar upaya penyelesaian krisis hanya bersifat parsial dan sementara. Belum tampak upaya penyelesaian yang komprehensif dengan melihat seluruh krisis yang ada sebagai satu krisis besar peradaban manusia. Manusia perlu cara pandang yang baru untuk mendapatkan gambaran persoalan yang lebih luas. Apa yang dilakukan manusia dengan penyelesaian parsial seperti mengobati kanker dengan salep dan perban, bukan mengangkat kanker yang menjadi sumber masalah.

Ada bahaya besar jika kita melakukan pendekatan parsial seperti itu. Apalagi jika masalah tersebut dibesar-besarkan oleh media secara tidak berimbang. Kondisi ini bisa membuat banyak orang terus terjebak pada cara pandang keliru karena hanya terfokus pada masalah yang tampak dipermukaan. Ini bisa mengalihkan manusia dari akar permasalahan yang sebenarnya, yang seharusnya menjadi fokus perhatian.

Akibatnya, banyak orang yang punya niat baik merasa puas telah ikut berpartisipasi menyelesaikan masalah dunia meski pada saat yang sama justru mengabaikan akar permasalahan. Orang sudah merasa ikut peduli dengan mengurangi konsumsi listrik di rumah atau kantor, menggunakan mobil berbahan bakar bio-fuel, menolak kantong plastik saat belanja di supermarket, dan hal-hal lain yang semacam itu tanpa pernah menyadari bahwa akar masalahnya belum tersentuh sama sekali. Tidak adanya fokus penyelesaian yang benar membuat banyak upaya penyelesaian yang didasari niat baik untuk peduli tidak memiliki arah penyelesaian yang jelas dan hanya menjadi penyelesaian dangkal yang bersifat sementara. Dalam beberapa kasus, berbagai upaya penyelesaian krisis justru memperdalam krisis yang ada atau menambah krisis baru.



Misalnya saja, dalam upaya mengatasi masalah populasi penduduk dunia yang terus meningkat. Ide pengendalian populasi muncul dari Thomas Malthus di Inggris pada tahun 1798. Ia mengkhawatirkan populasi penduduk yang terus meningkat dan ketersediaan pangan yang terbatas. Pemikiran Thomas Malthus menginspirasi Margaret Sanger yang pada tahun 1921 mendirikan American Birth Control League dan mempelopori gerakan keluarga berencana.

Pada tahun 1968 Paul Ehrlich menulis sebuah buku  berjudul “The Population Bomb” yang mengisyaratkan terjadinya ledakan populasi manusia jika tidak ada upaya pengendalian jumlah penduduk. Pada saat yang hampir sama PBB mendirikan organisasi untuk menangani masalah populasi (UNFPA, UN Fund for Population Activities) yang mendorong gerakan keluarga berencana di berbagai negara.

Memang benar dalam dunia yang punya keterbatasan, pertumbuhan populasi penduduk tanpa upaya pengendalian bisa menimbulkan masalah. Tapi melihat solusi masalah populasi hanya dari sudut pandang pengendalian tingkat kelahiran bisa menimbulkan masalah baru. Misalnya saja kampanye masif penggunaan kontrasepsi yang justru mengakibatkan meningkatnya aktivitas seksual ekstra-marital. Lalu banyak negara yang mulai melegalkan aborsi dengan syarat-syarat tertentu. Bahkan pada tingkat yang ekstrim pemerintah Cina mencanangkan gerakan satu keluarga satu anak. Jika ada wanita yang hamil anak kedua atau hamil di luar nikah, pemerintah komunis Cina akan memaksakan aborsi tidak peduli berapapun usia kehamilannya. Akhir-akhir ini juga banyak negara yang mulai melegalkan pernikahan sesama jenis sebagai alternatif gaya hidup yang tidak menghasilkan keturunan atau pertambahan penduduk. Tentu saja alasan yang digunakan bukan masalah pengendalian populasi tapi soal kebebasan dan hak asasi. Semua upaya-upaya di atas mungkin bisa membantu pengendalian tingkat kelahiran untuk sementara waktu, akan tetapi jelas menimbulkan masalah moral yang serius dan akan ada konsekuensinya. Cara-cara tersebut tidak akan pernah dilakukan kalau saja manusia tahu akar permasalahan yang sesungguhnya!

Revolusi Mental 5: Tiga Pesan Penting

Semenjak kemunculannya, LTG menuai banyak kritik sekaligus pujian. Tidak diragukan lagi, inilah buku mengenai lingkungan yang paling kontroversial yang pernah ada. Sebagian kritik menyatakan LTG hanya menebarkan pesan malapetaka dan kesuraman masa depan manusia dengan berdasarkan analisis yang terlalu disederhanakan. Sebagian lagi mengatakan bahwa LTG tidak memperhitungkan kemampuan manusia dalam beradaptasi. Lebih jauh lagi, berbagai penemuan sumber-sumber energi fosil dan mineral serta teknik-teknik baru eksplotasi tambang (seperti misalnya penerapan teknologi fracking pada beberapa tambang minyak yang mulai menurun produktivitasnya), yang dapat meningkatkan tingkat cadangan energi fosil dijadikan alasan untuk mendiskreditkan LTG.

Tapi terlepas dari segala kritik yang muncul, berbagai krisis yang terjadi seperti krisis pangan, krisis energi, krisis lingkungan, dan bahkan krisis ekonomi mau tidak mau menyadarkan banyak orang bahwa apa yang ditulis dalam LTG mengandung kebenaran. Sejak buku LTG diterbitkan tidak banyak perubahan berarti dan dunia terus bergerak mengikuti skenario overshoot.  Setelah 40 tahun penerbitan LTG, Dennis Meadows mengatakan fakta yang lebih kelam:

“Pada awal 1970-an, adalah sangat mungkin untuk percaya bahwa kita bisa melakukan perubahan yang dibutuhkan. Tapi sekarang sudah terlambat. Kita memasuki sebuah perioda dimana terjadi beberapa dekade gangguan iklim yang tidak terkontrol dan penurunan kondisi yang sangat sulit”

Banyaknya kepentingan-kepentingan ekonomis sempit yang tidak menginginkan perubahan membuat pesan penting yang diserukan oleh LTG demi perbaikan masa depan manusia gagal membawa perubahan berarti.



Ada tiga konklusi penting yang ingin disampaikan oleh LTG:

Pertama, jika trend pertumbuhan yang pada waktu itu terjadi terus berlanjut maka peradaban manusia akan memasuki kondisi ‘overshoot’, yaitu melampaui batas pertumbuhan yang sanggup diakomodasi oleh planet bumi yang terbatas. Kondisi ini bisa mengakibatkan penurunan drastis kapasitas industri dan populasi manusia. Atau dengan kata lain: bencana peradaban. Berbagai krisis yang terjadi sebenarnya merupakan tanda-tanda bahwa manusia tengah masuk ke dalam kondisi overshoot. Perubahan harus segera diambil jika manusia tidak ingin kondisi ini berujung pada terjadinya bencana peradaban.

Kedua, manusia bisa mengubah trend pertumbuhan faktor-faktor tersebut sehingga terjadi kestabilan ekologis dan peradaban yang berkelanjutan (sustainable). Upaya pengendalian populasi memang sudah dilakukan, demikian juga upaya penanganan polusi meski belum mencapai hasil yang diharapkan. Satu faktor pertumbuhan eksponensial penting yang sampai saat belum tersentuh upaya perbaikan adalah pertumbuhan ekonomi. Sampai hari ini semua negara masih terjebak pada paradigma pertumbuhan ekonomi tanpa batas dan belum ada alternatif model ekonomi yang lain. Ini bertambah buruk dengan sistem demokrasi yang menuntut para politisi terus terjebak untuk menjanjikan pertumbuhan ekonomi demi kesejahteraan rakyat agar bisa terpilih.

Jika menginginkan masa depan peradaban yang berkelanjutan manusia harus berani mengambil keputusan untuk mengubah paradigma pertumbuhan ekonomi ini. Manusia harus mulai memikirkan sistem ekonomi keadaan tunak (steady-state economy) sebagai alternatif sistem ekonomi di masa depan. Herman Daly, seorang ekonom Bank Dunia yang juga tokoh pendukung ekonomi keadaan tunak, berkomentar bahwa pada suatu hari ia akan menerima ide pertumbuhan ekonomi tanpa batas apabila koleganya bisa memberikan bukti bahwa planet bumi juga dapat bertumbuh dalam tingkat yang sepadan.

Ketiga, jika manusia memilih kondisi yang kedua maka semakin cepat perubahan dilakukan akan semakin besar kemungkinan keberhasilannya. Siapapun tidak ada yang menginginkan kondisi yang pertama. Masa depan yang berkelanjutan adalah harapan dan keinginan semua orang. Tapi 40 tahun telah berlalu sejak LTG diterbitkan memberi kita pelajaran bahwa perubahan sulit dilakukan karena banyaknya konflik kepentingan yang membuat diskusi dan debat berkepanjangan tanpa hasil berarti. Penundaan ini tidak bisa berlangsung lama karena hanya akan membuat krisis semakin kompleks dan upaya perbaikan akan semakin sulit. Tidak mungkin menunggu 40 tahun lagi, oleh karenanya manusia tidak bisa mengandalkan upaya perubahan dari kelompok elit penguasa dan kaum intelektual yang masih terus berdebat. Perubahan juga bisa dihasilkan dari gerakan populis atau akar rumput, yaitu suatu gerakan yang berasal dari kesadaran banyak orang untuk memulai perubahan demi masa depan yang lebih baik.

Dengan memahami ketiga konklusi yang disampaikan LTG setidaknya orang perlu melihat buku ini secara proporsional. LTG tidak hanya bicara tentang masa depan yang penuh bencana dan suram, tapi juga tentang adanya harapan untuk hadirnya peradaban yang berkelanjutan jika manusia mau melakukan perubahan.

Meskipun planet bumi memiliki batas-batas pertumbuhan namun manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan membangun peradaban yang berkelanjutan di dalam batas-batas tersebut. Kesempatan untuk membangun peradaban yang berkelanjutan ini yang seharusnya jadi perhatian semua orang. Sekarang maukah kita melakukan perubahan demi masa depan yang lebih baik, atau sebaliknya kita memilih untuk tetap menjalani kehidupan yang sudah biasa kita jalani sekarang meski itu mengarah pada kehancuran?

Minggu, 26 Oktober 2014

Revolusi Mental 4: Kisah Bakteri Dalam Botol

Ada sebuah cerita sederhana yang sering digunakan untuk memahami masalah pertumbuhan eksponensial dalam kondisi terbatas ini:

Sebuah botol percobaan di laboratorium diisi satu bakteri yang mampu membelah diri setiap satu menit dan makanan yang cukup untuk satu koloni bakteri. Bakteri tersebut akan memenuhi seluruh botol dan kehabisan seluruh cadangan makanan dalam waktu 1 jam. Pada menit ke 55 koloni bakteri baru menempati sekitar 3% botol. Ada bakteri yang mulai khawatir, "Hei kawan, kita punya masalah populasi..!" Tapi dia ditertawakan teman-temannya, "Lihat... botol masih luas, kita baru menempati 3% dan masih ada 97% lagi untuk kita tempati..." Pada menit ke 56, bakteri menempati 6.25% botol. Menit ke 57, menempati 12.5% botol. Akhirnya pada menit ke 59 bakteri menempati setengah wilayah botol dan mulai khawatir. Mereka mengumpulkan bakteri-bakteri yang menguasai sains dan teknologi untuk mencari jalan keluar. Tepat pada menit ke 60 mereka menemukan solusi berupa 3 buah botol yang baru lengkap dengan makanannya. Pada menit ke 61, botol keduapun terisi penuh. Dan pada menit ke 62, seluruh keempat botol yang ada penuh oleh koloni bakteri.



Botol dan makanan adalah planet bumi beserta sumber daya alamnya yang terbatas, sementara bakteri adalah populasi manusia dan pertumbuhan ekonomi. Jelas bahwa upaya menambah persediaan sumber daya alam, bahkan mencari koloni baru bukanlah solusi untuk mengatasi masalah pertumbuhan eksponensial. Itu hanya memberi kita kesempatan bernafas sebentar saja sebelum peradaban manusia masuk ke dalam kondisi overshoot. Banyak ahli yang sepakat bahwa saat ini kita sedang melewati menit ke 59!

Untuk pertumbuhan populasi, sudah ada upaya untuk mengendalikannya. Sekarang tingkat pertumbuhan penduduk dunia sudah mulai berkurang, bahkan di beberapa negara industri tingkat pertumbuhannya negatif. Tapi pertumbuhan ekonomi sampai saat ini belum ada upaya untuk mengendalikannya. Sebaliknya para ekonom dan politisi masih saja berasumsi bahwa pertumbuhan ekonomi harus terus berlanjut dengan alasan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, meski berbagai krisis seharusnya menyadarkan mereka bahwa ada yang salah dari konsep pertumbuhan ekonomi. Sejarah menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi sebenarnya hanya meningkatkan kesenjangan antara kaya dan miskin.